
Waktu saya bilang ke teman-teman di rumah bahwa saya akan berkuliah di Kudus, reaksi mereka hampir seragam: “Kudus ama Surabaya jauhan mana? Kudus yang rokok itu?”
Ya. Kudus yang rokok itu. Kota kretek. Kota yang baru saya tahu setelah sampai di sana ternyata punya bahasa sendiri yang tidak ada di silabus mana pun. Hiperbola sedikit, tapi memang kurang lebih begitu.
Saya tiba di Kudus pertama kali dengan satu koper, satu ransel, menenteng sepeda fixie berwarna pink, memakai celana pendek, polo shirt, dan kepercayaan diri seorang anak Tangerang yang sudah terbiasa naik Transjakarta tanpa lihat peta. Di kepala saya, pindah ke Jawa Tengah itu paling banter cuma soal adaptasi sambal yang lebih manis. Dan benar, memang manis banget. Bahkan soto pun pakai kecap. Saya pikir bahasa tidak akan jadi masalah. Toh sama-sama bahasa Indonesia, kan?
Begitu polosnya saya karena belum pernah merantau saat itu.
Sesampainya di kos, ibu kos ngomong sesuatu yang sampai sekarang saya tidak yakin sebenarnya saya tidak mendengar atau memang tidak mengerti. Saya cuma bisa senyum-senyum, angguk-angguk. Padahal saya tidak mengerti separuh dari kalimatnya. Saya cuma menangkap nada bicaranya, dan dari nada itu saya menyimpulkan dia sedang ramah. Mungkin. Semoga.
Bahasa Jawa Kudus itu bukan bahasa Jawa yang ada di buku pelajaran SD saya. Bukan yang cuma kulo nuwun dan matur suwun itu. Belakangan saya baru tahu ada tingkatan bahasa seperti ngoko, madya, dan krama. Orang-orang di Kudus menggunakannya dengan sangat lihai, berpindah dari satu tingkatan ke tingkatan lain kayak ganti gigi motor.
Sementara saya? Saya cuma bisa monggo dan mboten.
Monggo untuk hampir semua situasi. Ditawarin makan, monggo. Dipersilakan masuk, monggo. Bingung harus jawab apa, ya tinggal jawab monggo. Mboten saya pakai untuk menolak dengan sopan, termasuk ketika sebenarnya saya tidak tahu apa yang sedang ditanyakan.
Dua kata itu seperti senjata saya selama tiga tahun. Kayak film-film perang lama yang prajuritnya cuma pakai tombak dan tameng. Cuma bedanya saya bukan lagi perang melawan musuh, tapi melawan percakapan ibu-ibu warung.
Yang membuat situasi ini semakin dramatis adalah fakta bahwa saya jarang keluar kos. Bukan karena saya introvert akut, atau mungkin iya, sedikit. Tapi setiap kali keluar, ada kemungkinan terlibat percakapan yang berakhir dengan saya mengangguk-angguk seperti orang yang mengerti, padahal tidak sama sekali. Itu melelahkan. Jujur, capek harus mikir, translate di kepala, lalu mencari jawaban yang sekiranya masuk akal. Saya juga tidak suka berpura-pura ngerti.
Maka saya memilih kamar kos sebagai habitat utama.
Kamar kos saya berukuran tiga kali tiga meter, cukup untuk kasur, meja belajar, laptop, dan eksistensial crisis yang datang sewaktu-waktu. Saya memesan makanan lewat aplikasi, beli keperluan di minimarket yang jaraknya dekat banget dari kos, jadi tidak perlu banyak omong, lalu menghabiskan sebagian besar waktu dengan layar laptop.
Di Tangerang, saya tidak pernah merasa asing. Saya tahu bagaimana cara bercanda, bagaimana cara basa-basi, dan kurang lebih paham referensi budaya orang-orang di sekitar saya. Tapi di Kudus, saya asing bahkan dengan diri sendiri. Versi diri saya yang tiba-tiba tidak bisa berkomunikasi dengan baik, tidak tahu cara basa-basi yang benar, dan tidak punya referensi budaya yang sama dengan orang-orang di sekitarnya.
Ini bukan soal mereka yang tidak ramah. Justru sebaliknya, orang-orang Kudus yang saya kenal sangat ramah. Masalahnya ada pada saya yang tidak tahu cara masuk ke dalam keramahan itu.
Ada satu momen yang sampai sekarang masih saya ingat.
Waktu semester dua, saya mampir ke warung makan dekat kampus, salah satu warung yang jarang saya datangi karena ibu warungnya suka ngobrol. Saya tahu dari teman. Hari itu saya terpaksa datang karena aplikasi pesan antar sedang error.
Ibu warungnya bertanya sesuatu dalam bahasa Jawa. Saya tidak mengerti. Saya jawab dengan senyum dan sedikit tawa kikuk. Dia tertawa juga, tapi tawanya hangat, bukan mengejek. Lalu dia bilang dalam bahasa Indonesia, pelan-pelan, “Mas bukan orang sini ya?”
Saya tanya, “Kok ibu tahu? Kelihatan dari mana?”
Dia bilang, “Dari cara mas-nya panik kalau diajak ngobrol.”
Saya tidak tahu harus tertawa atau tersinggung. Saya pilih tertawa. Karena dia benar.
Tiga tahun di Kudus mengajari saya sesuatu yang sebenarnya sederhana: tidak semua percakapan harus dimenangkan dengan kemampuan menjawab. Kadang diam memang cuma diam.
Orang Tangerang, atau setidaknya saya sebagai sampel yang jelas tidak representatif, terbiasa mengisi keheningan. Percakapan harus terus jalan. Kalau diam, rasanya seperti ada yang salah. Tapi di Kudus saya mulai belajar bahwa diam juga bisa berarti nyaman. Tidak harus selalu ngobrol untuk bisa diterima.
Saya juga belajar bahwa bahasa bukan cuma soal kata-kata. Ada bahasa gestur, bahasa makanan, bahasa dari cara seseorang menaruh makanan lebih banyak ke piring kamu tanpa ditanya. Ada bahasa dari orang yang menawarkan makan, dari orang yang menyuruh duduk, dari orang yang tahu kamu tidak mengerti tapi tetap sabar menjelaskan. Bahasa-bahasa kecil semacam itu justru yang pelan-pelan saya pahami, jauh lebih cepat daripada bahasa Jawanya.
Tapi kalau ditanya apakah tiga tahun itu sudah cukup untuk membuat saya paham Kudus?
Tidak. Jauh dari cukup.
Saya pulang ke Tangerang dengan kosakata Jawa yang masih bisa dihitung pakai jari. Monggo, mboten, sekawan, matur suwun, kakeane, ora mudeng. Yang terakhir itu yang paling sering saya pakai, bahkan ketika tidak mengucapkannya keras-keras.
Ora mudeng artinya tidak mengerti.
Mungkin itu justru oleh-oleh terbesar yang saya bawa dari Kudus. Kesadaran bahwa ada banyak sekali hal yang tidak saya mengerti. Tentang kota itu, tentang orang-orangnya, tentang kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu terasa asing, tentang seseorang yang pernah dekat dengan saya dan tanpa sadar mengajari saya banyak hal mengenai culture dan budaya orang-orang di sana yang lembut dan sopan, dan tentu saja tentang diri saya sendiri ketika dilepas dari semua hal yang familiar.
Tiga tahun tidak membuat saya menjadi orang Kudus. Bahasa Jawa saya juga tidak tiba-tiba lancar. Tapi setidaknya saya pulang dengan kemampuan yang dulu tidak saya punya: kemampuan untuk tidak selalu merasa harus mengerti.
Dan entah kenapa, itu terasa seperti bekal yang cukup.