Langsung ke konten
Kampus punya banyak cerita✦Nggak semuanya masuk berita acara✦Kirim tulisanmu✦Dikurasi manusia, bukan algoritma✦Opini · Cerita · Satire · Keresahan✦Kampus punya banyak cerita✦Nggak semuanya masuk berita acara✦Kirim tulisanmu✦Dikurasi manusia, bukan algoritma✦Opini · Cerita · Satire · Keresahan✦
Tidak Masuk KRS
06 · Skripsi Belum Selesai

Selamat Hari Batik dari Mahasiswa Akhir

A

Adams

9 Oktober 2026 · 6 menit baca

Jumat 2 Oktober. Kudus pagi itu berasa penter panasnya klo kata orang betawi. Bukan panas biasa, yang masih bisa ditawar dengan kipas. Panas yang nempel di leher, yang bikin aspal Dersalam kayak mau meleleh, yang bikin saya bangun dengan semangat warga negara teladan… lalu langsung capek sebelum sempat jadi teladan.

Saya ini tipe orang yang hafal tanggal merah. Hari Guru posting. Hari Sumpah Pemuda posting. Hari Batik Nasional, ya jelas, masuk daftar wajib. Jadi pagi itu saya sempat ngerasa, alhamdulillah masih ingat. Masih sempat ngerasa punya kewajiban moral buat ikut merayakan warisan budaya bangsa. Padahal rencana saya hari itu, kalau boleh disebut rencana, cuma duduk di kos nyusun Bab I skripsi. Sendirian. Kaus oblong yang sudah tiga hari jadi seragam. Kipas nyala. Kulit basah. Skripsi diam.

Lalu saya buka WhatsApp, dan kesal.

Status teman-teman penuh. Ada yang foto bareng teman kantor, semua kompak batik seragam, tangan di pinggang kayak brosur koperasi. Ada yang bareng teman seperjuangan organisasi, batiknya macam-macam tapi senyumnya sama lebarnya. Ada yang cuma foto lengan, motif di pergelangan, caption satu kata, “Lestari.” Semua orang, sejauh yang kelihatan dari layar yang panas di tangan, lagi merayakan hari batik bareng orang lain.

Saya di kos. Sendirian. Draf Bab I yang jumlah katanya kalah banyak dari komentar di status mereka. di kos saya juga tidak ada AC, jadi kesalnya nambah satu: keringat.

Rasa kesalnya spesifik. Bukan karena nggak punya batik. Batik saya ada, satu, hadiah, masih rapi di lemari. Alhamdulillah sih, punya. Cuma yang bikin kesal adalah kesadaran bodoh itu: punya batik ternyata nggak cukup. Hari Batik, kayak yang diajarkan diam-diam sama linimasa, bukan soal pakai batik. Dia soal kelihatan pakai batik, bareng orang lain, dan ada yang motret. Tiga syarat. Saya gagal di ketiganya sekaligus.

Maka terjadi hal yang agak memalukan buat diakui sekarang. Saya memutuskan tetap merayakan, apa pun artinya itu.

Mandi. Buka lemari. Pakai batik satu-satunya. Motifnya bagus, saya bersyukur banget waktu dikasih dulu, cuma pagi itu batiknya langsung nempel di punggung. Kudus hari itu panas sekali. Matahari Oktober di sini nggak ada empatinya. Keluar kos aja udah kayak masuk oven. Tapi saya tetap keluar. Tanpa tujuan yang jelas, selain satu dorongan samar: hari itu nggak boleh lewat begitu aja tanpa saya ada di luar, pakai batik, di tengah orang-orang.

Tujuan pertama perpustakaan. Niat resminya lanjut skripsi. Niat aslinya biar ngerasa produktif sambil pakai batik. AC perpustakaan, alhamdulillah, nyala. Saya buka laptop, liat kalimat terakhir yang saya tulis entah kapan, lalu sadar otak saya sama sekali nggak di situ. Setengah jam lebih banyak buat ngecek batik masih rapi nggak kalau-kalau ada yang lewat, daripada ngetik. Tidak ada yang lewat. Cuma saya, laptop, dan kain yang basah di punggung pas baru masuk.

Lalu pindah ke coffee shop. Alasannya, siapa tahu suasana kafe bikin lebih produktif. Diam-diam, siapa tahu ada momen yang pantas difoto. Saya pesan kopi, duduk dekat jendela, nata diri kayak orang yang lagi menikmati sore budayawan. Padahal yang dinikmati cuma angin AC dan rasa kopi yang agak terlalu pahit. Bersyukur ada tempat duduk, sih. Kudus di luar jendela itu putih keemasan, panas, debu, motor lewat, orang-orang biasa aja.

Saya sempat angkat HP. Buka kamera. Turunin lagi. Mau foto sendiri, buat apa dan buat siapa. Mau selfie pakai batik di kafe sendirian itu, bagaimana ya, ada sesuatu yang terlalu telanjang di situ. Kayak ketahuan lagi berusaha.

Dari kafe, entah bagaimana, kaki saya bawa keliling Dersalam. Area dekat kampus. Jalan desa. Nggak ada agenda. Cuma ngegas pelan, pakai batik, keringat sampe pelipis. Penduduknya sibuk urusan masing-masing. Tidak satu pun peduli apakah hari itu Hari Batik atau bukan. Tukang bakso tetap jualan bakso. Anak-anak tetap main. Ada yang jemur kasur. Ada yang ngepel teras. Dunia, ternyata, baik-baik aja tanpa perayaan saya.

Panasnya kudus itu, saya ulang-ulang di kepala, hampir konyol. Batik nempel. Helm panas. Jalanan Dersalam sepi di beberapa tikungan, ramai di depan warung. Saya sempat ngerasa konyol sendiri: ini merayakan atau cuma keliling karena nggak tahan liat status orang.

Puncaknya, mampir ke kos teman. Masuk, duduk. Dia sambut biasa aja. Kipasnya kenceng, alhamdulillah, saya bisa napas. Di tengah obrolan yang nggak penting, tiba-tiba ada pertanyaan dari dalam kepala sendiri. Sebenarnya saya lagi ngapain, ya?

Saya sudah keliling setengah kota. Pindah tiga tempat. Pakai batik dari pagi. Keringat, debu, kopi, perpustakaan, jalan desa. Dari semua kerepotan itu, nggak ada satu pun yang benar-benar saya rayakan. Skripsi nggak maju. Foto nggak jadi. Teman yang saya datengin pun nggak lagi merayakan apa-apa. Dia bahkan lupa hari itu Hari Batik.

Di titik itu saya mulai curiga. Yang dari pagi saya kejar bukan perayaan. Tapi bukti. Bukti bahwa saya juga ikut. Bahwa saya nggak tertinggal. Bahwa saya ada di hari yang sama dengan semua orang di linimasa itu. Batik cuma kostumnya. Yang sebenarnya saya cari adalah perasaan jadi bagian dari sesuatu. Dan perasaan itu, celakanya, sudah terlanjur saya kaitkan dengan orang lain yang menyaksikan.

Ini yang jarang mau diakui soal hari-hari besar sekarang. Dulu merayakan itu soal melakukan sesuatu. Hari Batik ya pakai batik, selesai, mau ada yang liat atau nggak. Sekarang sebuah perayaan terasa belum sah sampai dia tayang. Kalau Hari Batik lewat dan nggak ada jejaknya di status, rasanya kayak nggak ikut sama sekali. Seolah batik yang nempel di badan seharian itu nggak dihitung kalau nggak ada yang nge-like. Kita sudah sampai di titik di mana pakai batik dan membuktikan sudah pakai batik adalah dua pekerjaan berbeda. Yang kedua, jujur, lebih berat. Lebih panas juga, kayaknya.

Dan yang paling lucu, kesendirian saya hari itu sebenarnya nggak istimewa. Saya hampir pasti bukan satu-satunya orang di Kudus yang hari itu pakai batik tanpa teman foto. Mungkin ada ratusan. Mungkin ada mahasiswa tingkat akhir lain, di kos sebelah, yang juga pakai batik, juga buka WhatsApp, juga ngerasa tertinggal, lalu juga keluar tanpa tujuan, juga kepanasan, juga pulang tanpa caption. Kami semua merayakan hari yang sama, dengan cara yang sama persis sepinya. Cuma nggak saling tahu karena nggak ada yang memposting bagian itu. Yang tayang cuma yang rame. Yang sepi disimpan sendiri-sendiri.

Saya pulang ke kos sore itu. Matahari masih nyengir. Batik masih nempel, agak bau keringat, maaf. Bab I masih berhenti di kalimat yang tadi pagi. Saya buka laptop lagi, menatap layar, dan memutuskan hari itu memang nggak akan menghasilkan apa-apa. Baik skripsi maupun foto.

Tapi setidaknya saya pakai batik. Seharian penuh. Kepanasan. Keliling. Nggak ada yang motret, nggak ada yang nge-like. Alhamdulillah, mungkin, hari itu selesai tanpa saya memaksa diri jadi konten. Mungkin memang begitu seharusnya sebuah hari dirayakan: dijalani aja, lalu dilupakan tanpa perlu ditayangkan.

Meski, jujur aja, sampai sekarang saya masih penasaran gimana jadinya kalau tadi saya beneran selfie. Dan, ya, saya juga bersyukur batik itu cuma satu. Kalau ada dua, takutnya saya ganti baju lalu keluar lagi.

Bagikan

Baca juga

Skripsi Belum Selesai

Open call · Semua rubrik

Punya cerita yang belum nemu tempat?

Keresahan, pengalaman absurd, atau argumen yang udah lama lu pendam. Tulis aja. Siapa tahu ada yang ngerasa sama.

Maskot TMK melambai, ngajak nulis